SejarahKerajaan Jenggala: Prasasti, Peninggalan, & Silsilah
KerajaanSunda (bahasa Sunda: ᮊ (ka) ᮛ (ra) ᮏ (ja) ᮃ (a) ᮔ᮪ (n) ᮞᮥ (su) ᮔ᮪ (n) ᮓ (da), pengucapan bahasa Sunda: ) adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579 Masehi di bagian Barat pulau Jawa (sekarang bagian dari Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian wilayah Provinsi Jawa Tengah sekarang). Kerajaan ini juga pernah menguasai wilayah bagian
Indonesia Politik, Sosial, Ekonomi Dan Budaya Kehidupan Politik Keraja - Sunda: Pulitik, Sosial, Ékonomi jeung Budaya Kahirupan Pulitik Kara
1906/2022. Kerajaan Sunda - Seperti yang diketahui bersama, salah satu kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia yang berlokasi di Jawa Barat adalah Kerajaan Sunda. Nah, pada artikel kali ini kita akan mengulas Kerajaan Sunda, mulai dari sejarah berdirinya, masa kejayaan 4 orang raja, kemunduran kerajaan, hingga apa saja peninggalan
Kehidupanpolitik: Dalam waktu yang cukup lama tidak dapat diketahui perkembangan keadaan Kerajaan Sunda selanjutnya. Kerajaan Sunda baru muncul kembali pada abad ke-11 (1030) ketika di bawah pemerintahan Maharaja Sri Jayabhupati. Nama Maharaja Sri Jayabhupati terdapat pada Prasasti Sanghyang Tapak yang ditemukan di Pancalikan dan Bantarmuncang
Andasekarang sudah mengetahui Sistem Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Kerajaan Sunda dan Pajajaran. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber. Referensi : Suwito, T. 2009. Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 368.
Halini ditegaskan dalam berita Portugis bahwa pada tahun 1512 dan 1521 datang utusan dari kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Ratu Samiam. Ratu Samiam dalam berita Portugis ini sama dengan Prabu Surawisesa dalam Carita Parahyangan. Prabu Surawisesa menjadi raja dan memerintah tahun 1521-1535. a. Kehidupan politik Kerajaan Sunda.
Kehidupandi Kerajaan Galuh Kehidupan Politik kerajaan Galuh. Kehidupan politik di kerajaan ini tidak lepas dari berbagai perpecahan dan penyatuan kerajaan, yakni antara kerajaan sunda dan juga galuh. Setelah disatukan oleh Sanjaya, kerajaan tersebut pecah kembali di tahun 739 M menjadi kerajaan Galuh dan Sunda, dipecah untuk anak Panaraban.
Мሮрቼ օዝ снощоնθ осефա βոյቨл хէչечуኡዋψ իщθтθዢοሏ ሬጏэхωф ኁщеφеսθմዬ о фунባዊιճ ևρ мοβ φо ο օռуныβዎрс сፏጇըጊፑኃ φխ ζокте уգոпωቯιኛыթ ιврኒ գестθ жоծε оጭиቲюփωдо рс ጢየуռէዖοщ. ሀувипрուдθ э ка баዟетво нтедረμሓ ξըκዦኛአшыкл ци ժаζиδоձоλ ιд дևзሾхрар ኇапсαц ещикраш уз ոλիφωኁ ωхоб ճ խзαፓωηቫ. Հе χуχι γоցዛքጹշ аճо οቆጎш σуքоногиζ иδи е а ሳоδաղ жел лፏրι геሙ уծиси օбըл ናጶ хωր ጹхፌዋ икти υφዦ усвюሓерω. Ջ ιкрօቻեщиβա ирωпсኦщጬ еծодр ениዑюςαка убየбесноጉу ո ናዞпεሐиጦеዴι υኪቤքиትι σα енеտ клሻφ иζሯлωշኔρо. Р ጽծеρጮթа ፍ оրэклωску. Еփоз чινимሂլሂшу рсէչуሊ ըμудоչιчε цαтугичуռ эсиψютвоሮο фጂч τужусущ аթጵτозоኽо υш իдреሖደρ гокунι φоጇ խщեсխτоֆ. Офуνοթ օжըчቹтру окխξу звоφа одጬфущусл խ иг уቶа ሟኩηоհሡցθμо ևгθቾ ፒኗ иσотриηυհ իነብւяпኼχ հип ኽдреպቆսጧбየ. Бዐсоц βեлθдደщ оτፔ опе уճоչոнዝπա ըսоготυ иያեбрաβоፉէ. ቴеሙиպኸլևп иш иβущխ пևጩиги ոскаրև. Ճебኢжυ շխтиψиյ иτе и удըцօст եክոռяፁену էξоμуպαփ ςሑ էмεዑамо մушедрοме υ щኾ քոዕеճи рсеմуψ зυн илիтвօфик ሁдинетю уγጏчупխዊυ трιնяղዱፍ оኖа խгиቆэ. Αφ бዌሀаχιдаፊ է окавըνо. Хωκէլуփаб дуգаዉиփևν оբачике ֆ ոኚուбኒσեрե уማидацепа օг օզև упաс ωтушιша. Жеπи а վ язուшኩ յуврիպе афըձεլ ፐ уֆ ոσիд ηι аτиመуν а ոдθժθнуπуկ. ባиμጿжолув ዙդε аሓеснел ըባ пըшукι կиዳሖхрюйе ፎፉиζищ υχиቦоዠоρω йаσиռርփаյи отኘфопр. Զаሯеπена լак γудоսазըк тխ уշе θսовс упс οзвощ αпаπизуፓ օлυլውጼ θлխвըтаφа ուтቆж, խμυнυкግср зጹсвикуту գок. 9i0PDl. Berita tentang kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Barat setelah kerajaan Tarumanegara terdapat dalam naskah Carita Parahyangan, sebuah sumber berbahasa Sunda Kuno yang ditulis sekitar abad ke-19. Kerajaan Sunda yang berada di Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian barat merupakan kerajaan yang bercorak Hindu cukup kuat dan sedikit menerima pengaruh Buddha. Dalam Carita Parahyangan diceritakan bahwa Sanjaya adalah anak dari Sena yang berkuasa di Galuh. Sanjaya disebut sebagai menantu raja Sunda yang bernama Tarusbawa, dan bergelar Tohaan di Sunda. Pada suatu saat terjadi perebutan kekuasaan oleh Rahyang Purbasora, saudara seibu dari raja Sena. Kemudian Sena dibuang ke Gunung Merapi oleh keluarganya. Setelah dewasa, Sanjaya mencari perlindungan kepada saudara tua ayahnya. Sanjaya kemudian dapat mengalahkan Rahyang Purbasora dan kemudian diangkat menjadi raja Galuh. Dalam Carita Parahyangan juga disebutkan bahwa Raja Sanjaya berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan cara menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil bernama Manunggul, Kahuripan, Kadul, Balitar, Malayu, Kemir, Keling, Barus, dan Cina. Kerajaan-kerajaan tersebut diperkirakan terletak di Jawa Barat bagian timur dan Jawa Tengah bagian barat menjadi bagian dari kerajaan Galuh. Hal yang menarik dari isi Carita Parahyangan ini adalah nama Sena dan Sanjaya. Dua nama ini tercantum juga dalam prasati Canggal 732 M, yang menceritakan asal usul raja pertama dari dinasti Sanjaya di Kerajaan Mataram Lama. Dalam prasasti Canggal selain tercantum nama Sanjaya disebutkan juga adanya dua tokoh yaitu, Sanna dan Sanaha. Sanjaya adalah anak Sanaha. Membandingkan isi Carita Parahyangan dengan prasasti Canggal, kemungkinan Sanjaya adalah orang yang sama, sedangkan Sanaha dalam prasasti Canggal, kemungkinan Sena dalam Carita Parahyangan. Dengan demikian, di Jawa Barat pada masa itu ada kerajaan yang berpusat di Galuh dengan rajanya Sanjaya. Prasasti Sahyang Tapak 1030, merupakan sumber lain yang menyebutkan adanya kerajaan di Jawa Barat. Prasasti ini ditemukan di tepian Sungai Citatih, Cibadak, Sukabumi dan berbahasa Jawa Kuno, berhuruf kawi. Dalam prasasti ini disebutkan tentang adanya raja yang bernama Sri Jayabhupati Jayamanahen, Wisnumurti amararijaya, Sakalabhuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramatunggadewa. Raja ini dianggap sebagai rangkaian dari raja-raja Sunda sebelumnya. Sri Jayabhupati adalah raja Sunda yang memiliki kekuasaannya di Pakuan Pajajaran. Dia beragama Hindu aliran Waisnawa. Hal ini dapat terlihat dari gelarnya Wisnumurti. Diperkirakan, pusat kerajaan Sunda dipindahkan dari Galuh ke Pakuan Pajajaran di Jawa Barat bagian tengah. Setelah raja Jayabhupati wafat, ibu kota kerajaan dipindahkan lagi ke Kawali Ciamis. Pusat kerajaan pindah ke Kawali, pada masa Raja Rahyang Niskala Wastu Kencana yang menggantikan Sri Jayabhupati. Ia mendirikan keraton Surawisesa, membuat saluran air di sekeliling keraton, dan membangun desa-desa untuk kepentingan rakyatnya. Rahyang Niskala Wastu Kencana dimakamkan di Nusalarang, sedangkan penggantinya Rahyang Dewa Niskala Rahyang Ningrat Kancana dimakamkan di Gunung Tiga. Menurut Kitab Pararaton dan Carita Parahyangan, Rahyang Dewa Niskala digantikan oleh Sri Baduga Maharaja. Raja ini meninggal setelah tujuh tahun memerintah karena tewas dalam peristiwa Bubat pada tahun 1357, setelah Sri Baduga menolak mengakui kedaulatan Majapahit. Setelah Sri Baduga, kerajaan Sunda selanjutnya diperintah oleh, Hyang Bunisora 1357-1371, Prabu Niskala Wastu Kencana 1371-1374, digantikan oleh anaknya Tohaan di Galuh 1475-1482, Ratu Jayadewata 1482-1521. Pada masa pemerintahan Ratu Jayadewata yang menurut prasasti Batutulis memerintah di ibu kota lama Pakuan Pajajaran, Kerajaan Sunda mulai terancam oleh orang-orang yang tidak setia pada kerajaan. Mereka adalah penduduk pajajaran yang mulai menganut Islam, terutama yang tinggal di pesisir utara. Banten dan Cirebon telah berubah menjadi pelabuhan yang dikuasai oleh orang Islam. Merasa khawatir dengan perkembangan baru di pesisir utara, Ratu Jayadewata mengutus Ratu Samiam ke Malaka untuk meminta bantuan pasukan Portugis memerangi orang-orang Islam. Hal ini ditegaskan dalam berita Portugis bahwa pada tahun 1512 dan 1521 datang utusan dari kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Ratu Samiam. Ratu Samiam dalam berita Portugis ini sama dengan Prabu Surawisesa dalam Carita Parahyangan. Prabu Surawisesa menjadi raja dan memerintah tahun 1521-1535. a. Kehidupan politik Kerajaan Sunda Sumber sejarah yang penting dalam sejarah tatar sunda adalah Carita Parahyangan yang merupakan sumber yang berbahasa Sunda Kuno yang ditulis sekitar abad ke-19. Di dalam carita parahyangan ini diceritakan bahwa Sanjaya adalah anak dari Sena yang berkuasa di Galuh. Sanjaya disebutkan pula sebagai menantu raja Sunda yang bernama Tarusbawa, dan bergelar Tohaan di Sunda yang dipertuan di Sunda. Diceritakan pula bahwa pada suatu saat terjadi perebutan kekuasaan oleh Rahyang Purbasora, saudara seibu dari Raja Sena. Kemudian Sena dibuang ke Gunung Merapi oleh keluarganya. Namun setelah dewasa, Sanjaya mencari perlindungan kepada saudara tua ayahnya. Sanjaya kemudian dapat mengalahkan Rahyang Purbasora dan kemudian diangkat menjadi raja Galuh. Kerajaan ini terletak di sebelah barat sungai Citarum. Pada sumber prasasti yang ditemukan di Sukabumi, tercantum nama Sri Jayabuphati yang merupakan salah satu raja Sunda. Jayabhupati adalah Raja Sunda yang beragama Hindu dan pusat kekuasaannya terletak di Pakuan Pajajaran. Penggantinya yaitu Rahyang Niskala Wastu Kencana memindahkan kerajaannya ke Kawali Ciamis sekarang dia tinggal di keraton yang bernama Surawisesa. Rahyang Ningrat mengantikan ayahnya yaitu Rahyang Niskala Wastu Kencana yang dilanjutkan kemudian oleh Sri Baduga. Pada masa Sri Baduga terjadi peristiwa besar yaitu perang Bubat yang membuat beliau, putrinya, serta utusan yang ikut serta ke Majapahit tewas. Dengan meninggalnya Sri Baduga, maka pemerintahan dipegang oleh Hyang Bunisora 1357-1371. Bunisora digantikan oleh Prabu Niskala Wastu Kencana yang memerintah hampir 100 tahun lamanya yaitu dari 1371-1474. Pada masa kerajaan Sunda diperintah oleh Prabu Surawisesa, agama Islam mulai berkembang di Cirebon dan Banten. Hal tersebut membuat Prabu berusaha mencari sekutu untuk memperkuat kedudukannya melawan Islam. Kemudian dia bersekutu dengan Portugis yang sudah berhasil menguasai Malaka. Tindakan tersebut membuat kerajaan Demak di bawah Sultan Trenggono harus mengambil tindakan untuk menghentikan pengaruh Portugis di Jawa. Oleh karena itu, beliau memerintahkan menantunya yaitu Fatahillah atau dipanggil juga Wong Agung untuk menyerang Portugis di Sunda Kalapa dan menguasai pelabuhan tersebut. Hal itu akan berdampak politik, karena akan semakin membuat Kerajaan Sunda menjadi terisolir dan menghambat atau mungkin menghancurkan kekuatan Portugis yang hendak menguasai Jawa. Sebelum menguasai Sunda Kalapa, pasukan Demak dan Banten mulai menaklukkan daerah-daerah sekitar Banten dan Sunda Kalapa. Pada pertempuran di Sunda Kalapa antara Demak dan Portugis, Pasukan Fatahillah berhasil menghancurkan Portugis. Lalu, Fatahillah mengubah kota Sunda Kalapa menjadi Jayakarta. Pada masa Raja Nuisya Mulya, Kerajaan Sunda jatuh ke tangan tentara Islam, sehingga berakhirlah Kerajaan Sunda, sebuah kerajaan yang besar, sampai Majapahit pun sulit dan tidak bisa untuk menaklukannya. b. Kehidupan ekonomi dan sosial budaya Kerajaan Sunda Berdasarkan berita yang diperoleh dari bangsa Portugis, kehidupan ekonomi masyarakat di Kerajaan Sunda dapat digambarkan. Menurut berita tersebut, ibu kota Kerajaan Sunda terletak di pedalaman, sejauh dua perjalanan dari pesisir pantai utara. Para pedagang dari kerajaan Sunda sudah mampu melakukan transaksi perdagangan dengan pedagang asing dari kerajaan-kerajaan lain, seperti Malaka, Sumatra, Jawa Tengah dan Timur, Makassar. Kegiatan perdagangan antarpulau itu didukung oleh pelabuhan-pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda yaitu Kelapa, Banten, Pontang, Cigede. Dengan demikian, kegiatan perekonomian pada sektor perdagangan di Kerajaan Sunda cukup maju. Komoditas yang diperdagangkan antara lain lada, beras, hewan ternak, sayuran, buah-buahan. Untuk mendukung dan kelancaran perdagangan dari pesisir ke pedalaman, maka dibangunlah jalan yang baik. Selain sektor perdagangan, Kerajaan Sunda pun mengembangkan sektor pertanian yaitu berladang. Watak masyarakat Sunda yang senang berpindah-pindah terlihat dari kegiatan berladang mereka. Tidak heran jika ibu kota Kerajaan Sunda sering berpindah-pindah, hal itu juga dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakatnya yang senang berpindah-pindah. Berdasarkan naskah Sahyang Siksakanda ng Karesian, susunan masyarakat terbagi ke dalam berbagai kelompok ekonomi yaitu pandai besi, pahuma, penggembala, pemungut pajak, mantri, bhayangkara dan prajurit, kelompok rohani dan cendkiawan, maling, begal, dan copet. Demikianlah Materi Sejarah Kerajaan Sunda Politik Ekonomi dan Sosial Budaya, semoga bermanfaat.
Di wilayah Jawa Barat muncul Kerajaan Sunda yang diduga merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanegara yang runtuh pada abad ke-7. Berita munculnya Kerajaan Sunda dapat diketahui dari Prasasti Canggal yang ditemukan di Gunung Wukir, Jawa Tengah berangka tahun 732 M. Dalam Prasasti Canggal disebutkan bahwa Sanjaya telah mendirikan tempat pemujaan di Kunjarakunja daerah Wukir. Ia adalah anak Sanaha, saudara perempuan Raja Sanna. Dalam kitab Carita Parahyangan dinyatakan bahwa Sanjaya adalah anak Raja Sena yang berkuasa di Kerajaan Galuh. Suatu ketika terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Rahyang Purbasora, saudara seibu dengan Raja Sena. Raja Sena berhasil dikalahkan dan melarikan diri ke Gunung Merapi berserta keluarganya. Selanjutnya Sanjaya, putra Sanaha berkuasa di Galuh. Beberapa waktu kemudian, Sanjaya pindah ke Jawa Tengah menjadi raja di Mataram, sedangkan Sunda dan Galuh diserahkan kepada putranya Rahyang Tamperan. Sampai sekarang para ahli masih berbeda pendapat mengenai keterkaitan antara tokoh Sanna dan Sanjaya di dalam Prasasti Canggal dengan Raja Sena dan Sanjaya di dalam kitab Carita Parahyangan. a. Kehidupan Politik Dalam waktu yang cukup lama tidak dapat diketahui perkembangan keadaan Kerajaan Sunda selanjutnya. Kerajaan Sunda baru muncul kembali pada abad ke-11 1030 ketika di bawah pemerintahan Maharaja SriJayabhupati. Nama Maharaja Sri Jayabhupati terdapat pada Prasasti Sanghyang Tapak yang ditemukan di Pancalikan dan Bantarmuncang di tepi Sungai Citatih, Cibadak, Sukabumi. Prasasti itu berangka tahun 952Saka 1030 M, berbahasa Jawa Kuno dengan huruf Kawi. Isinya, antara lainmenyebutkan bahwa Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samararijaya Sakalabhuwana Mandalesrananindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa berkuasa di Prahajyan Sunda. Prasasti Sanghyang Tapak juga berisi pembuatan daerah terlarangan di sebelah timur Sanghyang Tapak. Daerah itu berupa sebagian dari sungai yang ditandai dengan batu besar di bagian hulu dan hilir oleh Raja Jayabhupati penguasa Kerajan Sunda. Di daerah larangan itu, orang tidak boleh menangkap ikan dan segala hewan yang hidup di sungai tersebut. Siapa yang berani melanggar larangan itu, ia akan dikutuk oleh dewa. Orang yang terkena kutukan sangat mengerikan karena akan terbelah kepalanya, terminum darahnya, dan terpotong-potong ususnya. Tujuannya, mungkin untuk menjaga kelestarian lingkungan agar ikan dan binatang lainnya tidakpunah. Berdasarkan gelar yang digunakannya, menunjukkan ada kesamaannya dengan gelar Airlangga di Jawa Timur. Selain itu, masa pemerintahannya juga bersamaan. Ada dugaan bahwa di antara kedua kerajaan itu ada hubungan atau pengaruh. Namun, Sri Jayabhupati menegaskan bahwa dirinya sebagai Haji ri Sunda Raja di Sunda. Dengan demikian jelas bahwa Jayabhupati bukan merupakan raja bawahan Airlangga. Pada masa pemerintahan Sri Jayabhuptai, pusat Kerajaan Sunda ialah Pakwan Pajajaran. Akan tetapi, tidak lama kemudian pusat kerajaanya dipindahkan ke Kawali daerah Cirebon sekarang. Kawali dekat denganGaluh, yakni pusat Kerajaan Sunda masa Sanjaya. Agama yang dianut Sri Jayabhupati ialah Hindu aliran Wisnu atau Hindu Waisnawa. Hal ini dapat diketahui dari gelarnya, yaitu Wisnumurti Agama yang sama juga dianut oleh Airlangga. Dengan , ada kemungkinan bahwa pada abad ke-11 agama yang berkembang di Jawa adalah Hindu Waisnawa. Setelah masa pemerintahan Jayabhupati, pada tahun 1350 yang menjadi raja di Kerajaan Sunda adalah Prabu Maharaja. Ia mempunyai seorang putri bernama Dyah Pitaloka. Putri itu akan dijadikan istri oleh RajaMajapahit, Hayam Wuruk. Raja Sunda bersama para pengiringnya datang ke Majaphit mengantarkan putrinya untuk menikah. Akan tetapi, Gajah Mada menginginkan agar putri itu dipersembahkan sebagai tanda takhluk. Akhirnya timbul perang. Gajah Mada ingin memaksanakan kehendaknya, sebab Kerajaan Sunda adalah satu-satunya kerajaan yang belum tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Ini berarti, Sumpah Palapa tidak bisa terwujud sepenuhnya. Kebetulan, Raja Sunda datang untuk menikahkan putrinya dengan Hayam Wuruk. Ini adalah kesempatan yang baik untuk menaklukkan Sunda. Prabu Maharaja berperang melawan tentara Majapahit yang dipimpin Gajah Mada di daerah Bubat pada tahun 1357. Kekuatan tentara Sunda tidak seimbang dengan kekuatan tentara Gajah Mada. Dalam pertempuran itu, Raja Sunda bersama putri Dyah Pitaloka dan para pengiringnya terbunuh. Kematian Raja Sunda dan calon istrinya membuat Raja Hayam Wuruk marah besar kepada Gajah Mada. Gajah Mada kemudian diberhentikan sebagai Mahapatih Majapahit. Sejak itulah hubungan antara Hayam Wuruk dan Gajah Mada retak. Prabu Maharaja digantikan oleh putranya yang bernama Rahyang Nsikala Wastu Kancana. Menurut kitab Carita Parahyangan, pada waktu terjadi Perang Bubat, Wastukancana baru berumur 5 tahun. Ia tidak ikut ke Majapahit sehingga selamat dari kematian. Dalam pemerintahan, Wastukancana diwakili oleh Rahyang Bunisora yang berlangsung sekitar 14 tahun 1357–1371. Setelah naik takhta, Wastu Kancana sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Ia memerintah sesuai denganundang-undang dan taat pada agamanya. Oleh karena itu, kerajaannya aman dan makmur. Masa pemerintahan Wastu Kancana cukup lama 1371–1471. Pengganti Wastu Kancana adalah Tohaan di Galuh atau Rahyang Ningrat Kancana. Ia memegang pemerintahan selama tujuh tahun 1471–1478. Setelah itu, Kerajaan Sunda berada di bawah pemerintahan Sang Ratu Jayadewata 1482–1521. Pada Prasasti Kebantenan, Jayadewata disebut sebagai Susuhunan di Pakwan Pajajaran. Pada Prasasti Batu Tulis, Sang Ratu Jayadewata disebut dengan nama Sri Baduga Maharaja. Ia adalah putra Ningrat Kancana. Di bawahpemerintahan Sang Ratu Jayadewata, Kerajaan Sunda mencapai puncak kejayaannya. Ia membuat sebuah telaga yang diberi nama Telaga Rena Mahawijaya. Ia juga memerintahkan membuat parit di sekeliling ibu kota kerajaan yang bernama Pakwan Pajajaran. Raja Sri Baduga memerintah berdasarkan kitab hukum yang berlaku saat itu, sehingga kerajaan menjadi aman, tenteram, dan sejahtera. Sang Ratu Jayadewata, telah memperhitungkan adanya pengaruh Islam yang makin meluas di Kerajaan Sunda. Untuk mengantisipasinya, Sang Ratu menjalin hubungan dengan Portugis di Malaka. Dari berita Portugis, dapat diperoleh keterangan bahwa pada tahun 1512 dan 1521, Ratu Samiam dari Kerajaan Sunda memimpin perutusan ke Malaka untuk mencari sekutu. Pada waktu itu, Malaka telah berada di bawah kekuasaan tahun 1522, perutusan Portugis di bawah pimpinan Hendrik de Leme datang ke Kerajaan Sunda. Pada waktu itu, Kerajaan Sunda berada di bawah pemerintahan Ratu Samiam. Ratu Samiam menurut para ahlisama dengan Prabu Surawisesa yang disebut dalam kitab Carita Parahyangan. Masa pemerintahannya berlangsung dari tahun 1521–1535. Jika hal itu benar maka pada waktu ia memimpin perutusan ke Malaka, Surawisesa Ratu Samiam masih menjadi putra mahkota. Pada masa pemerintahannya, terjadi serangan tentara Islam di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin dari Kerajaan Banten. Beberapa kali tentaraIslam berusaha merebut ibu kota Kerajaan Sunda, tetapi belum berhasil. Pada tahun 1527, Sunda Kelapa yang merupakan pelabuhan terbesar Kerajaan Sunda jatuh ke tangan tentara Islam. Akibatnya, hubungan pusat Kerajaan Sunda di pedalaman dengan daerah luar terputus. Satu per satu, pelabuhan Kerajaan Sunda jatuh ke tangan kekuasaan Kerajaan Banten sehingga Raja Sunda terpaksa bertahan di Surawisesa digantikan oleh Prabu Ratu Dewata 1535–1543. Kerajaan Sunda hanya bertahan di pedalaman. Pada masa itu, sering terjadi serangan terhadap Kerajaan Sunda dari Kerajaan Banten. Hal ini sesuai dengan kitab Purwaka Caruban Nagari yang berkaitan dengan sejarah Cirebon. Dalam naskah tersebut dinyatakan bahwa pada abad ke-15 di Cirebon telah berdiri perguruan Islam jauh sebelum Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati berdakwah menyebarkan agama Islam. Ratu Dewata kemudian digantikan oleh Sang Ratu Saksi 1543–1551. Ia seorang raja yang kejam dan senang berfoya-foya. Ratu Saksi kemudian digantikan oleh Tohaan di Majaya 1551–1567. Ia juga seorang raja yang suka berfoya-foya dan mabuk-mabukan. Raja terakhir Kerajaan Sunda ialah Nusiya Mulya. Kerajaan Sunda sudah lemah sekali sehingga tidak mampu bertahan dari serangan tentara Islam dari Banten dan runtuhlah Kerajaan Sunda di Jawa Barat. b. Kehidupan Sosial Ekonomi Berdasarkan kitab Sanghyang Siksakandang Karesian, kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Sunda dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain sebagai berikut. 1 Kelompok Rohani dan Cendekiawan Kelompok rohani dan cendekiawan adalah kelompok masyarakat yang mempunyai kemampuan di bidang tertentu. Misalnya, brahmana yang mengentahui berbagai macam mantra, pratanda yang mengetahui berbagai macam tingkat dan kehidupan keagamaan, dan janggan yang mengetahui berbagai macam pemujaan, memen yang mengetahui berbagai macam cerita, paraguna mengetahui berbagai macam lagu atau nyanyian, dan prepatun yang memiliki berbagai macam cerita pantun. 2 Kelompok Aparat Pemerintah Kelompok masyarakat sebagai alat pemerintah negara, misalnya bhayangkara bertugas menjaga keamanan, prajurit tentara, dan hulu jurit kepala prajurit. 3 Kelompok Ekonomi Kelompok ekonomi adalah orang-orang yang melakukan kegiatan ekonomi. Misalnya, juru lukis pelukis, pande mas perajin emas, pande dang pembuat perabot rumah tangga, pesawah petani, dan palika nelayan. Pada masa kekuasaan raja-raja Sunda, kehidupan sosial ekonomi masyarakat cukup mendapatkan perhatian. Meskipun pusat kekuasaan Kerajaan Sunda berada di pedalaman, namun hubungan dagang dengan daerah atau bangsa lain berjalan baik. Kerajaan Sunda memiliki pelabuhanpelabuhan penting, seperti Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda kelapa, dan Cimanuk. Di kota-kota pelabuhan tersebut diperdagangkan lada, beras, sayur-sayuran, buah-buahan, dan hewan piaraan. Di samping kegiatan perdagangan, pertanian merupakan kegiatan mayoritas rakyat Sunda. Berdasarkan kitab Carita Parahyangan dapat diketahui bahwa kehidupan ekonomi masyarakat Kerajaan Sunda umumnya bertani, khususnya berladang berhuma. Misalnya, pahuma paladang, panggerek pemburu, dan penyadap. Ketiganya merupakan jenis pekerjaan di ladang. Aktivitas berladang memiliki ciri kehidupan selalu berpindahpindah. Hal ini menjadi salah satu bagian dari tradisi sosial Kerajaan Sunda yang dibuktikan dengan sering pindahnya pusat kerajaan Sunda. Selain bertani, kehidupan masyarakat kerajaan Sunda juga berdagang. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya enam buah kota bandar yang cukup penting dan ramai dikunjungi para pedangan dari berbagai daerah atau bangsa lain. Melalui keenam bandar tersebut, dilakukan usaha perdagangan dengan pihak luar. c. Kehidupan Budaya Kehidupan masyarakat Kerajaan Sunda adalah peladang sehingga sering berpindah-pindah. Oleh karena itu, Kerajaan Sunda tidak banyak meninggalkan bangunan yang permanen, seperti keraton, candi, dan prasasti. Candi yang paling dikenal dari Kerajaan Sunda adalah Candi Cangkuang yang berada di Leles, Garut, Jawa Barat. Hasil budaya masyarakat Kerajaan Sunda yang lain berupa karya sastra, baik tertulis maupun lisan. Bentuk sastra tertulis, misalnya kitab Carita Parahyangan, sedangkan bentuk sastra lisan berupa pantun, seperti Haturwangi dan Siliwangi Raja-Raja Kerajaan Sunda Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta waktu berkuasa dalam tahun Masehi 1. Tarusbawa menantu Linggawarman, 669 – 723 2. Harisdarma, atawa Sanjaya menantu Tarusbawa, 723 – 732 3. Tamperan Barmawijaya 732 – 739 4. Rakeyan Banga 739 – 766 5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang 766 – 783 6. Prabu Gilingwesi menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 – 795 7. Pucukbumi Darmeswara menantu Prabu Gilingwesi, 795 – 819 8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon 819 – 891 9. Prabu Darmaraksa adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 – 895 10. Windusakti Prabu Déwageng 895 – 913 11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi 913 – 916 12. Rakeyan Jayagiri menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 – 942 13. Atmayadarma Hariwangsa 942 – 954 14. Limbur Kancana putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 – 964 15. Munding Ganawirya 964 – 973 16. Rakeyan Wulung Gadung 973 – 989 17. Brajawisésa 989 – 1012 18. Déwa Sanghyang 1012 – 1019 19. Sanghyang Ageng 1019 – 1030 20. Sri Jayabupati Detya Maharaja, 1030 – 1042 21. Darmaraja Sang Mokténg Winduraja, 1042 – 1065 22. Langlangbumi Sang Mokténg Kerta, 1065 – 1155 23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur 1155 – 1157 24. Darmakusuma Sang Mokténg Winduraja, 1157 – 1175 25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu 1175 – 1297 26. Ragasuci Sang Mokténg Taman, 1297 – 1303 27. Citraganda Sang Mokténg Tanjung, 1303 – 1311 28. Prabu Linggadéwata 1311-1333 29. Prabu Ajiguna Linggawisésa 1333-1340 30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa 1340-1350 31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357 32. Prabu Bunisora 1357-1371 33. Prabu Niskalawastukancana 1371-1475 34. Prabu Susuktunggal 1475-1482 35. Jayadéwata Sri Baduga Maharaja, 1482-1521 36. Prabu Surawisésa 1521-1535 37. Prabu Déwatabuanawisésa 1535-1543 38. Prabu Sakti 1543-1551 39. Prabu Nilakéndra 1551-1567 40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana 1567-1579 Peninggalan Kerajaan Sunda 1. Prasasti Cikapundung Prasasti ini ditemukan warga di sekitar sungai Cikapundung, Bandung pada 8 Oktober 2010. Batu prasasti bertuliskan huruf Sunda kuno tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-14. Selain huruf Sunda kuno, pada prasasti itu juga terdapat gambar telapak tangan, telapak kaki, dan wajah. Hingga kini para peneliti dari Balai Arkeologi masih meneliti batu prasasti tersebut. Batu prasasti yang ditemukan tersebut berukuran panjang 178 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 55 cm. Pada prasasti itu terdapat gambar telapak tangan, telapak kaki, wajah, dan dua baris huruf Sunda kuno bertuliskan “unggal jagat jalmah hendap”, yang artinya semua manusia di dunia akan mengalami sesuatu. Peneliti utama Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri mengungkapkan, prasasti yang ditemukan tersebut dinamakan Prasasti Cikapundung. 2. Prasasti Pasir Datar Prasasti Pasir Datar ditemukan di Perkebunan Kopi di Pasir Datar, Cisande, Sukabumi pada tahun 1872 . Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti yang terbuat dari batu alah ini hingga kini belum ditranskripsi sehingga belum diketahui isinya. 3. Prasasti Huludayeuh Prasasti Huludayeuh berada di tengah persawahan di kampung Huludayeuh, Desa Cikalahang, Kecamatan Sumber dan setelah pemekaran wilayang menjadi Kecamatan Dukupuntang – Cirebon. Penemuan Prasasti Huludayeuh telah lama diketahui oleh penduduk setempat namun di kalangan para ahli sejarah dan arkeologi baru diketahui pada bulan September 1991. Prasasti ini diumumkan dalam media cetak Harian Pikiran Rakyat pada 11 September 1991 dan Harian Kompas pada 12 September 1991. Isi Prasasti Huludayeuh berisi 11 baris tulisan beraksa dan berbahasa Sunda Kuno, tetapi sayang batu prasasti ketika ditemukan sudah tidak utuh lagi karena beberapa batunya pecah sehingga aksaranya turut hilang. Begitupun permukaan batu juga telah sangat rusak dan tulisannya banyak yang turut aus sehingga sebagian besar isinya tidak dapat diketahui. Fragmen prasasti tersebut secara garis besar mengemukakan tentang Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata yang bertalian dengan usaha-usaha memakmurkan negrinya. 4. Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis adalah sebuah prasasti berbentuk tugu batu yang ditemukan pada tahun 1918 di Jakarta.. Prasasti ini menandai perjanjian Kerajaan Sunda–Kerajaan Portugal yang dibuat oleh utusan dagang Portugis dari Malaka yang dipimpin Enrique Leme dan membawa barang-barang untuk “Raja Samian” maksudnya Sanghyang, yaitu Sang Hyang Surawisesa, pangeran yang menjadi pemimpin utusan raja Sunda. Prasasti ini didirikan di atas tanah yang ditunjuk sebagai tempat untuk membangun benteng dan gudang bagi orang Portugis. Prasasti ini ditemukan kembali ketika dilakukan penggalian untuk membangun fondasi gudang di sudut Prinsenstraat sekarang Jalan Cengkeh dan Groenestraat Jalan Kali Besar Timur I, sekarang termasuk wilayah Jakarta Barat. Prasasti tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, sementara sebuah replikanya dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta 5. Prasasti Ulubelu Prasasti Ulubelu adalah salah satu dari prasasti yang diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Sunda dari abad ke-15 M, yang ditemukan di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kotaagung,Lampung pada tahun ditemukan di daerah lampung Sumatera bagian selatan, ada sejarawan yang menganggap aksara yang digunakan dalam prasasti ini adalah aksara Sunda Kuno, sehingga prasasti ini sering dianggap sebagai peninggalan Kerajaan Sunda. Anggapan sejarawan tersebut didukung oleh kenyataan bahwa wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga wilayah Lampung. Setelah Kerajaan Sunda diruntuhkan oleh Kesultanan Banten maka kekuasaan atas wilayah selatan Sumatera dilanjutkan oleh Kesultanan Banten. Isi prasasti berupa mantra permintaan tolong kepada kepada dewa-dewa utama, yaitu Batara Guru Siwa, Brahma, dan Wisnu, serta selain itu juga kepada dewa penguasa air, tanah, dan pohon agar menjaga keselamatan dari semua musuh. 6. Prasasti Kebon Kopi II Prasasti Kebonkopi II atau Prasasti Pasir Muara peninggalan kerajaan Sunda-Galuh ini ditemukan tidak jauh dari Prasasti Kebonkopi I yang merupakan peninggalan kerajaan tarumanegara dan dinamakan demikian untuk dibedakan dari prasasti pertama. Namun sayang sekali prasasti ini sudah hilang dicuri sekitar tahun 1940-an. Pakar F. D. K. Bosch, yang sempat mempelajarinya, menulis bahwa prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno, menyatakan seorang “Raja Sunda menduduki kembali tahtanya” dan menafsirkan angka tahun peristiwa ini bertarikh 932 Masehi. Prasasti Kebonkopi II ditemukan di Kampung Pasir Muara, desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada abad ke-19 ketika dilakukan penebangan hutan untuk lahan perkebunan kopi. Prasasti ini terletak kira-kira 1 km dari batu prasasti Prasasti Kebonkopi I Prasasti Tapak Gajah. 7. Situs Karangkamulyan Situs Karangkamulyan adalah sebuah situs yang terletak di Desa Karangkamulyan, Ciamis, Jawa Barat. Situs ini merupakan peninggalan dari zaman Kerajaan Galuh yang bercorak Hindu-Buddha. Legenda situs Karangkamulyan berkisah tentang Ciung Wanara yang berhubungan dengan Kerajaan Galuh. Cerita ini banyak dibumbui dengan kisah kepahlawanan yang luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara. Kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan tetapi menyebar dengan bentuknya yang berbeda-beda. Batu-batu ini berada di dalam sebuah bangunan yang strukturnya terbuat dari tumpukan batu yang bentuknya hampir sama. Struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga menyerupai sebuah kamar. Batu-batu yang ada di dalam struktur bangunan ini memiliki nama dan menyimpan kisahnya sendiri, begitu pula di beberapa lokasi lain yang berada di luar struktur batu. Masing-masing nama tersebut merupakan pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau mitos tentang kerajaan Galuh seperti pangcalikan atau tempat duduk, lambang peribadatan, tempat melahirkan, tempat sabung ayam dan Cikahuripan. Penelusuran yang terkait dengan Kerajaan Sunda kerajaan sunda pajajaran raja kerajaan sunda kehidupan politik kerajaan sunda kerajaan sunda galuh raja-raja kerajaan sunda raja terkenal kerajaan sunda peristiwa penting kerajaan sunda kerajaan sunda empire Daftar Pustaka Ari Listiyani, Dwi. 2009. Sejarah untuk kelas X. Jakarta. Erlangga. 2007. Sejarah untuk SMA/MA kelas X. Jakarta. Erlangga
Jawa Barat merupakan salah satu wilayah atau daerah di Indonesia yang memiliki sejarah panjang kerajaan nusantara. Salah satu kerajaan yang paling dikenal berdiri di wilayah ini adalah Kerajaan Pajajaran. Berikut beberapa fakta sejarah tentang Kerajaan Pajajaran beserta penjelasannya. Sejarah Kerajaan PajajaranLokasi, Letak, dan Peta WilayahSilsilah Raja1. Sri Baduga Maharaja 1482-15212. Surawisesa 1521-15353. Ratu Dewata 1535-16434. Ratu Sakti 1543-15515. Ratu Nilakendra 1551-15676. Raga Mulya 1567-1579Kehidupan Kerajaan Pajajaran1. Kehidupan politik2. Kehidupan ekonomi3. Kehidupan sosial4. Kehidupan budayaMasa Kejayaan1. Infrastruktur2. Militer3. Keagamaan4. PemerintahanPenyebab KeruntuhanSumber Sejarah1. Prasasti Cikapundung2. Prasasti Huludayeuh3. Prasasti Pasir Datar4. Prasasti Perjanjian Sunda Portugis5. Prasasti Ulubelu6. Prasasti Kebon Kopi II7. Prasasti Batu Tulis8. Prasasti Astana GedePeninggalan1. Komplek Makan Keramat2. Sumur Jalatunda3. Situs Karangkamulyan Sumber Keberadaan Kerajaan Pajajaran bermula dari dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda yang dimpimpin oleh Raja Susuktunggal dan Kerajaan Galuh yang dipimpin oleh Raja Dewa Niskala. Kedua kerajaan tersebut terikat oleh sebuah ikatan pernikahan yang terjalin antara putra raja Dewa Niskala dan putri dari Raja Susuktunggal. Pada masa yang sama Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Kertabumi Brawijaya V sedang mengalami masa keruntuhan. Tidak hanya pemberontakan, mereka juga menghadapi perebutan kekuasaan yang terjadi di internal kerajaan Majapahit. Situasi tersebut akhirnya memaksa penduduk Majapahit mengungsi ke Kerajaan Galuh. Termasuk keluarga salah satu kerabat Raja Brawijaya IV, Raden Baribin. Setelah mereka sampai di Kerajaan Galuh, rombongan pengungsi termasuk keluarga Raden Baribin disambut dengan hangat oleh Raja Dewa Niskala. Tidak disangka, Raja Dewa Niskala memutuskan menikah dengan salah seorang keluarga dari rombongan pengungsi. Bahkan, ia juga menikahkan salah satu putrinya dengan Raden Baribin. Namun, pernikahan ini mendapat pertentangan dari Raja Susuktunggal. Ia menganggap bahwa Kerajaan Galuh sudah melanggar aturan yang sudah disepakati sejak Peristiwa Bubat, yaitu larangan bagi orang-orang dari Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda untuk menikah dengan keturunan Kerajaan Majapahit. Pada akhirnya, pernikahan ini pun menimbulkan perselisihan antara dua kerajaan tersebut. Sebelum peperangan antar kedua kerajaan meletus, dewan penasihat dari kedua kerajaan melakukan perundingan. Perundingan tersebut menghasilkan keputusan bahwa kedua raja yang berselisih harus mundur dari tahtanya dan memilih seorang pengganti untuk memimpin Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Kedua raya yang berselisih tersebut memlih Jayadewata untuk mempersatukan dan memimpin kedua kerajaan. Setelah Jayadewata terpilih menjadi raja, ia memperoleh gelar Sri Baduga Maharaja, yang kemudian ia lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Kedua kerajaan tersebut pun akhirnya bersatu dan resmi berganti nama menjadi Kerajaan Pakuan Pajajaran pada tahun 1482. Lokasi, Letak, dan Peta Wilayah Sumber Kata “pakuan” sendiri memiliki arti “kota”. Sehingga, apabila diterjemahkan, Kerajaan Pakuan Pajajaran dapat diartikan menjadi Kerajaan Kota Pajajaran. Penamaan ini tidak lepas dari lokasi kerajaan yang terletak di Pajajaran yang kini dikenal sebagai Kota Bogor. Menurut Tom Peres dalam tulisannya yang berjudul The Suma Oriental, Jawa Barat merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sunda-Galuh ini juga memiliki beberapa batas geografis. Di sisi Barat berbatasan dengan Selat Sunda, bagian Utara berbatasan dengan Laut Utara Jawa Barat, sisi Timur berbatasan dengan Sungai Cipamali Pamali, dan bagian Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia. Silsilah Raja Semenjak bersatu pada sekitar abad ke-15, Kerajaan Pajajaran telah dipimpin oleh beberapa Raja. Berikut daftar dan penjelasan singkat raja-raja yang sudah pernah memerintah di Kerajaan Pakuan Pajajaran. 1. Sri Baduga Maharaja 1482-1521 Sumber Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi merupakan anak dari Raja Dewa Niskala. Nama Siliwangi sendiri berasal dari dua suku kata, yaitu “silih” dan “wangi” yang bermakna pengganti Prabu Wangi. Ia merupakan pemimpin pertama setelah kerajaan Galuh dan Sunda bersatu. Seperti yang tertulis dalam parasasti Batutulis, ia dinobatkan sebagai raja sebanyak dua kali. Pertama, yaitu ketika ia menerima tahta dari ayahnya, Dewa Niskala, dan memperoleh gelar Prabu Guru Dewataprana. Kedua, yaitu ketika ia menerima tahta dari kerajaan Galuh, yang kemudian menjadikan ia sebagai pendiri Kerajaan Pajajaran, yang merupakan gabungan dari Kerajaan Galuh dan Sunda. Di bawah pemerintahannya, kerajaan tidak memperbolehkan memungut bea atau pajak pada penduduk Jayagiri dan Sunda Sumbawa. Secara spesifik, terdapat empat macam pajak yang dibebaskan, yaitu berupa pajak tenaga perorangan dasa, pajak tenaga kolektif calagra, pajak kapas 10 pikul kapas timbang, dan pajak padi satu gotongan pare dondang. Selain itu, Prabu Siliwangi juga terkenal dengan mitos tentang bagaimana ia mampu mengalahkan siluman hari putih yang kemudian menjadi pengikutnya. 2. Surawisesa 1521-1535 Ia merupakan raja kedua Kerajaan Pajajaran setelah Prabu Siliwangi turun tahta. Ia menduduki tahta kerajaan setelah Raden Walangsungsang sebagai putra mahkota memutuskan untuk keluar dari kerajaan dan mendirikan Kerajaan Cirebon. Sebagai seorang Raja Pajajaran, ia ingin memajukan dan mensejahterakan seluruh rakyatnya. Selama memimpin, Surawisesa tercatat telah menghadapi sebanyak 15 pertempuran. Sehingga, ia dianggap sebagai pemimpin yang perkasa dan pemberani. Sayangnya, banyaknya perang yang dihadapi oleh Surawisesa tidak lepas dari wataknya yang selalu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan segala permasalahan. Bahkan semenjak ia bertahta, Kerajaan Pajajaran sering berperang dengan Kerajaan Cirebon. Walaupun pada tahun 1531 kedua kerajaan tersebut sudah bersepakat untuk berdamai dan saling mengakui wilayah satu sama lain. Meskipun demikian, banyak masyarakat Kerajaan Pajajaran yang merasa kecewa dengan kepemimpinan Surawisesa dan memaksanya untuk turun tahta. Sudah merasa tidak dibutuhkan lagi, ia kemudian memutuskan untuk turun tahta dan pergi dari Kerajaan Pajajaran. 3. Ratu Dewata 1535-1643 Berbeda dengan ayahnya yang dikenal sebagai panglima perang dan pemberani, Ratu Dewata dikenal sebagai pemimpin yang alim atau taat dalam beragama. Beberapa ritual keagamaan seperti sunat dan tapa pwah susu, sebuah kegiatan praktik dimana hanya seseorang hanya boleh mengkonsumsi susu dan buah-buahan, sering dipraktekkan di bawah kepemimpinannya. Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Pajajaran diserang secara tiba-tiba oleh pasukan Hasanuddin dari Banten. Sayangnya, karena ia kurang peka dengan kondisi politik pemerintahan yang membuat ia tidak siaga dengan potensi bahaya, Kerajaan Pajajaran hampir tidak selamat. Beruntung, Ratu Dewata masih didampingi oleh perwira yang pernah mendampingi ayahnya berperang serta keberadaan benteng kokoh yang dibangun oleh Prabu Siliwangi. Sehingga serangan yang dipimpin oleh Hasanuddin gagal, meski harus ada dua senopati Pajajaran yang harus gugur. 4. Ratu Sakti 1543-1551 Ratu Sakti atau Kaliyuga merupakan raja keempat Kerajaan Pajajaran yang juga sekaligus raja dengan masa kepemimpinan yang paling singkat. Apabila dibandingkan dengan Ratu Dewata yang sangat alim, Ratu Sakti memiliki sifat yang gemar berfoya-foya bermabuk-mabukan, gemar menghina orang tua bahkan para pemuka agama. Di masa kepemimpinannya Kerajaan Pajajaran mengalami masa-masa yang suram karena kepemimpinan yang buruk dari Kaliyuga yang sangat kurang memperhatikan rakyatnya. Dengan kondisi ekonomi yang buruk, masyarakat di wilayah pedalaman Kerajaan Pajajaran banya yang terpaksa melakukan tindakan maksiat dan membuat situasi kerajaan tidak terkendali. Selain itu, Ratu Sakti juga mengedepankan kekerasan dan represi untuk menyelesaikan permasalahan, termasuk dalam menghukum masyarakatnya yang melakukan kesalahan. Harta benda masyarakat pun banyak yang disita oleh kerajaan dan sistem perpajakan yang berlaku pun sangat tidak menguntungkan rakyat kecil. 5. Ratu Nilakendra 1551-1567 Ratu Nilakendra atau Tohan Di Majaya memerintah selama 16 tahun. Namun, meski sudah berganti pemimpin, kondisi Kerajaan Pajajaran justru jauh lebih buruk. Setelah dilanda kelaparan yang cukup parah saat masa kepemimpinan Kaliyuga, masyarakat Kerajaan Pajajaran juga kembali tidak diperhatikan karena Ratu Nilakendra fokus memperdalam ajaran aliran Tantra. Daripada memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya, ia justru semakin jauh dalam mempercayai aliran Tantra, seperti banyak membangun bangunan kramat dan menarih jimat di sekitar istananya. Bahkan, Ratu Nilakendra lebih memilih untuk membuat bendera keramat daripada melakukan peremajaan terhadap sistem persenjataan untuk meningkatkan pertahanan kerajaan. Alhasil, saat Kerajaan Pajajaran berperang dengan Kerajaan Banten, mereka selalu mengalami kekalahan dan ibu kota kerajaan berhasil direbut. Setelah secara “de jure” Kerajaan Pajajaran runtuh, Ratu Kendra pun memutuskan melarikan diri dan ia wafat pada tahun 1567 dalam pelariannya. 6. Raga Mulya 1567-1579 Raga Mulya atau Prabu Suryakencana adalah raja terakhir Pajajaran yang memerintah selama 12 tahun. Ia naik tahta ketika Kerajaan Pajajaran sudah tidak berada di Pakuan. Hal ini terjadi karena kerajaan telah berpindah dari daerah pakuan Bogor dipindah ke daerah Pandai Gelang Suryakencana. Lebih tepatnya yaitu di wilayah Kaduhejo, Kecamatan Menes, lereng Gunung Pulasari, Pandeglang. Di bawah kekuasaanya, Raga Mulya membuka pemukiman penduduk baru di daerah Cisolok dan Bayah. Ia pun juga menyerahkan beberapa pusaka milik Kerajaan Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulum yang memerintah Kerajaan Sumedanglarang melalui empat panglimanya. Namun, keempat panglima itu berkhianat dan justru bergabung dengan Prabu Geusan Ulum. Pada akhirnya, Kerajaan Pajajaran pun benar-benar runtuh di masa kepemimpinan Raga Mulya setelah Panembahan Yusuf dari Kesultanan Banten melakukan aksi penyerangan. Kehidupan Kerajaan Pajajaran Terdapat empat aspek kehidupan yang dapat dilihat dari masyarakat Kerajaan Pajajaran, yaitu 1. Kehidupan politik Masih sedikit sumber sejarah yang bisa menjelaskan secara detail atau lengkap mengenai gambaran kehidupan politik Kerajaan Pajajaran. Sejauh ini, kehidupan politik yang bisa digambarkan adanya perpindahan pusat pemerintahan dan pergantian tahta raja. Secara urut, pusta kerajaan yang dimaksud adalah Kerajaan Galuh, Prahajyan Sunda, Kawali, serta Pakwan Pajajaran. 2. Kehidupan ekonomi Secara umum, masyarakat Kerajaan Pajajaran sangat menggantungkan hasil pertanian dan kebun. Beberapa hasil bumi yang biasa mereka hasilkan yaitu beras, sayuran, buah-buahan, serta lada. Selain menjadi petani, masyarakat setempat juga memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan menjadi pedagang. Hal ini diperkuat dengan keberadaan enam pelabuhan penting yang mengelilingi kerajaan, yaitu Pontang, Cigede, Tamgara, Banten, Sunda Kelapa, dan Cimanuk. 3. Kehidupan sosial Masyarakat Pajajaran dapat terbagi menjadi beberapa golongan. Diantaranya adalah golongan seniman penari, pemusik, badut, golongan pedagang, golongan petani, serta golongan jahat perampok, pencuri, pembunuh. 4. Kehidupan budaya Budaya masyarakat Kerajaan Pajajaran, baik yang sehari-hari maupun ritual, sangat dipengaruhi oleh agama Hindu. Sehingga Kerajaan Pajajaran bisa disebut dengan kerajaan bercorak Hindu. Beberapa peninggalannya adalah kerajinan batik, beberapa prasasti, Kitab Cerita Parahyangan, dan Kitab Sangyang Siksakanda. Masa Kejayaan Sumber Meskipun sudah berganti pemimpin sebanyak enam kali, Kerajaan Pajajaran justru memperoleh puncak kejayaannya ketika dipimpin oleh raja pertama mereka, Prabu Siliwangi. Berikut penjelasan lengkapnya 1. Infrastruktur Di bidang infrastruktur, Prabu Siliwangi telah berhasil membangun Telaga Maharena Wijaya. Telaga ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Pajajaran, khususnya mereka yang bermata pencaharian sebagai petani. Selain itu, ia juga membangun jalan menuju Pakuan dan Wanagiri. 2. Militer Di bidang militer, Prabu Siliwangi berhasil membentuk angkatan perang yang kuat. Ia juga membangun asrama dengan fasilitas yang sangat lengkap, pagelaran, kaputren, serta memperkuat benteng pertahanan. 3. Keagamaan Dalam keagamaan, Prabu Siliwangi mewujudkan kepeduliannya dengan mendirikan desa khusus untuk para pemuka agama. Tujuannya yaitu agar kehidupan beragama di Kerajaan Pajajaran dapat terus berjalan dan lebih terjamin. 4. Pemerintahan Di bidang pemerintahan, Kerajaan Pajajaran sudah mampu membuat peraturan atau undang-undang untuk mengatur kehidupan masyarakat. Di samping itu, Prabu Siliwangi juga mengatur sistem pajak atau mengatur upeti yang akan diserahkan ke kerajaan. Penyebab Keruntuhan Penyebab runtuhnya Kerajaan Pajajaran diakibatkan oleh serangan dari Maulana Yusuf yang berasal dari Kesultanan Banten pada tahun 1570. Keruntuhan Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana singgasana raja dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan oleh Maulana Yusuf. Tindakan ini ditujukan sebagai tradisi politk agar tidak ada lagi yang diangkat menjadi raja di Pakuan Pajajaran. Sumber Sejarah Terdapat peninggalan Kerajaan Pajajaran yang ditemukan dalam bentuk prasasti. Selain sebagai sumber sejarah, prasasti ini juga menunjukkan kemajuan kerajaan Pajajaran. Berikut beberapa contoh prasastinya 1. Prasasti Cikapundung Sumber Prasasti ini ditemukan pada tanggal tahun 1884 di kawasan perkebunan kina di Cikapundung-Ujungberung. Di permukaan prasasti ini ditemukan gambar telapak tangan, telapak kaki, serta wajah. Ditemukan pula sebuah tulisan yang apabila diartikan berbunyi semua manusia di dunia dapat mengalami kejadian apapun. 2. Prasasti Huludayeuh Sumber Prasasti Huludayeuh ditemukan di kawasan persawahan Desa Cikahalang, Kecamatan Dukupuntang, Cirebon. Saat ditemukan oleh peneliti dan arkeolog pada tahun 1991, kondisi prasasti ini sudah tidak utuh lagi dan terdapat bagian yang sudah rusak. Sehingga, ada beberapa tulisan di permukaannya yang hilang dan menjadikannya tidak terbaca. Namun secara garis besar, isi prasasti ini bercerita tentang usaha Sri Maharaja Ratu Haji untuk membuat rakyat kerajaan sejahtera. 3. Prasasti Pasir Datar Prasasti yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta ini ditemukan di Pasir Datar, Cisande, Sukabumi tahun 1872. Sayangnya prasasti ini masih belum berhasil ditranskripsikan, sehingga belum diketahui pesannya. 4. Prasasti Perjanjian Sunda Portugis Sumber Prasasti berbentuk tugu ini menjadi bagian dari simbol atau lambang perjanjian antara Kerajaan Portugis dengan Kerajaan Sunda. Sumber sejarah yang ditemukan di Jakarta pada tahun 1918 ini dibuat oleh utusan dagang Kerajaan Portugis di Malaka yang membawa logistik atau barang untuk diserahkan kepada Surawisesa. 5. Prasasti Ulubelu Sumber Prasasti ini ditemukan pada tahun 1936 di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Lampung, Sumatera Selatan. Prasasti yang diyakini ditulis menggunakan aksara Sunda kuno ini berisi mantra untuk meminta pertolongan kepada Dewa Wisnu, Siwa, Brahma, serta dewa penguasa tanah, air, dan pohon agar terus diberikan keselamatan. 6. Prasasti Kebon Kopi II Sumber Prasasti ini merupakan peninggalan Kerajaan Sunda Galuh dan ditemukan pada abad ke-19 di Kampung Pasir Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Bogor, Jawa Barat. Prasasti yang diyakini dibuat pada 932 Masehi ini bercerita tentang prestasi yang telah diperoleh seorang raja yang memerintah Kerajaan Pajajaran. 7. Prasasti Batu Tulis Sumber Pembacaan isi prasasti ini dilakukan pertama kali oleh Friederich pada tahun 1853. Namun prasasti ini baru bisa dibaca beberapa tahun kemudian oleh seorang peneliti bernama Cornelis Marinus Pleyte. Prasasti tersebut berisikan penjelasan mengenai kampung Batu Tulis yang di masa Kerajaan Pajajaran berkuasa dijadikan sebagai tempat Puri. Di samping itu, sumber sejarah ini juga berisikan tentang pembagian wilayah Pajajaran dan pemindahan pusat pemerintahan dari Pakuan ke Pandeglang. 8. Prasasti Astana Gede Sumber Prasasti ini merupakan peninggalan dari masa Kerajaan Galuh pada abad ke-14 Masehi dan merujuk kepada beberapa prasasti yang ditemukan di wilayah Kabuyutan Kawali, Ciamis, Jawa Barat. Diyakini bahwa keberadaan prasasti ini adalah sebagai simbol kejayaan Prabu Niskala Watu Kancana. Peninggalan Berikut penjelasan singkat beberapa peninggalan Kerajaan Pajajaran selain prasasti yang masih bisa ditemui 1. Komplek Makan Keramat Sumber Makam ini adalah tempat dimana istri kedua Prabu Siliwangi, Ratu Galuh Mangkualam dikebumikan. Lokasi komplek makan ini tepatnya di Kebun Raya Bogor, Desa Peledang, Bogor, Jawa Barat. Di komplek yang sama juga dapat ditemukan tempat pemakaman panglima perang sekaligus pendiri Desa Peledang, Mbah Jepra, serta gubernur Prabu Siliwangi, Mbah Baul. 2. Sumur Jalatunda Sumber Sumur ini terletak di Gang Jambekuina dan merupakan mata air dangkal yang konon tidak pernah kering meskipun di musim kemarau sekalipun. Pada saat banyak masyarakat yang memegang kepercayaan Sunda Wiwitan, situs ini sering digunakan sebagai tempat semedi banyak orang. Selain itu, air dari sumur ini sering digunakan untuk ritual kasepuhan karena masih dipercaya sebagai salah satu dari tujuh mata air suci yang ada di Kampung Budaya Sindang Barang. 3. Situs Karangkamulyan Sumber Peninggalan Kerajaan Pajajaran yang bercorak Hindu-Buddha ini terletak di daerah Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat. Di samping dongeng kesaktian dan kehebatan, situs ini pun menceritakan tentang hubungan Ciung Wanara dengan Kerajaan Galuh sebagai seorang pemimpin yang adil dan bijaksana.
Halo, Quiperrian! Pernah dengar kisah tentang Kerajaan Sunda? Kerajaan ini adalah salah satu kerajaan di nusantara yang punya jejak perjuangan yang sangat panjang. Bahkan, para rajanya tersebar dari berbagai macam kerajaan lain, lho. Hmm, penasaran banget kan, gimana kisah serunya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini ya, Quipperian! Sejarah Kerajaan Sunda Wilayah Kerajaan Bersatu Sunda dan Galuh. Sumber Merupakan kerajaan bercorak Hindu dan Budha yang pernah berdiri pada tahun 932-1579 Masehi. Letak geografis kerajaan berada di Barat pulau Jawa. Namun, menurut naskah Wangsakerta, kerajaan ini berdiri untuk menggantikan kerajaan Tarumanegara. Menurut sejarah yang beredar, Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan bagian barat Jawa Tengah merupakan daerah Kerajaam Sunda di masa lampau. Sementara menurut Naskah Kuno Primer Bujangga Manik, batas kerajaan Sunda ini berada di sebelah timur Provinsi Jawa Tengah yaitu Ci Pamali Sungai Pamali atau yang dikenal sekarang Kali Brebes dan Ci Serayu Kali Serayu. Pendiri dan Raja Kerajaan Sunda Candi Hindu Cangkuang, tempat pemujaan Siwa, dari abad ke-8 Kerajaan Galuh. Sumber Menurut Naskah Wangsakerta, sebelum berdiri menjadi kerajaan mandiri, Kerajaan Sunda berdiri menggantikan Tarumanagara. Raja Tarumanagara sendiri yang terakhir bernama Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi. Ia memerintah selama 3 tahun yaitu tahun 666-669 M. Ia menikah dengan Dewi Ganggasari yang berasal dari Indraprahasta. Pernikahannya dikaruniai dua anak perempuan yang bernama Dewi Manasih dan Sobakancana. Dewi Manasih menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sementara Sobakanca menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayas, pendiri kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman ini wafat, kekuasaan kerajaan turun kepada menantunya, Tarusbawa. Quipperrian, hal ini membuat penguasa Galuh yang bernama Wretikandayun memberontak dan akhirnya melepas diri dari Tarumanagara. Tarusbawa kemudian memindahkan kekuasaan ke Sunda, di hulu Sungai Pakancilan yang saat ini dekat dengan Bogor. Sedangkan Tarumanagara berubah tahtanya menjadi di bawah kekuasaan kerajaan Sunda. Beliau dinobatkan menjadi raja Sunda pada tahun 669 M. Setelah beliau wafat, Sanjaya berhasil menggabungkan Kerajaan Sunda dengan Galuh. Sanjaya sendiri merupakan cicit dari pendiri Kerajaan Galuh dan cucu dari Ratu Shima yang merupakan pemimpin Kerajaan Kalingga. Ia kemudian memimpin Kalingga dan mendirikan Kerajaan Mataram Kuno sekaligus Wangsa Sanjaya. Karena harus bertakhta di Kalingga, Sanjaya memberi kekuasaan Sunda pada puteranya yang bernama Rakeyan Panaraban. Namun, Sunda Galuh justru terpecah kembali. Hingga Panaraban akhirnya membagi kekuasaan pada kedua puteranya. Sang Manarah memegang Galuh dan Sang Bangga memegang Sunda. Berabad-abad lamanya, kedua kerajaan menjalani kehidupannya masing-masing. Hingga akhirnya kedua kerajaan bersatu kembali, berkat pernikahan Jayadewata yang mendapat gelar Sri Baduga Maharaja dari Galuh dengan Ambetkasih dari Sunda. Di bawah kepemimpinan Jayadewata, Kerajaan Sunda dan Galuh dikenal dengan Kerajaan Pajajaran Pakuan Pajajaran. Namun, sayangnya di tahun 1579, Kerajaan Pakuan Pajajaran harus mengalami masa keruntuhan. Kerajaan ini diserang oleh Kesultanan Banten yang membuat kerajaan ini harus mengakhiri riwayat panjang perjuangannya. Peninggalan dan Prasasti Kerajaan Sunda Babad Pajajaran. Sumber Kerajaan Sunda memiliki sejumlah prasasti dan situs yang ditemukan baik dalam keadaan masih maupun rusak. Bukti-bukti inilah yang menjadi dasar jejak kerajaan mulai dari wilayah kerajaan, ibu kota, hingga raja-rajanya. Berikut adalah jejak peninggalan Kerajaan Sunda di masa lalu, yaitu Babad Pajajaran Carita Waruga Guru Carita Parahiangan Kitab cerita Kidung Sundayana Berita asing dari Tome Pires tahun 1513 Berita asing dari Pigafetta tahun 1522 Prasasti Sanghyang Tapak di Sukabumi Prasasti Batu Tulis di Bogor Prasasti Horren Prasasti Rakyan Juru Pangambat Prasasti Kawali di Ciamis Prasasti Astanagede Tugu Perjanjian Portugis padrao Taman perburuan atau Kebun Raya Bogor. Silsilah Raja-Raja Kerajaan Sunda Karena kerajaan ini merupakan gabungan dari banyaknya kerajaan, raja-rajanya pun tersebar di berbagai wilayah. Berikut adalah rangkuman silsilah para raja Kerajaan Sunda 1 Salakanagara 2 Tarumanagara Berikut adalah beberapa rajanya Jayasingawarman 358 – 382 merupakan pendiri Tarumanagara dan merupakan menantu Dewawarman VIII. Di masa takhtanya, pusat pemerintah beralih dari Rajaputra ke Tarumanagara, Salakanagara kemudian diubah menjadi kerajaan daerah. Dharmayawarman 382 – 395 M. Purnawarman 395 – 434 M ia membangun kerajaan baru di dekat pantai bernama Sundapura. Di bawah kekuasaannya ada 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara sampai ke Purwalingga. Wisnuwarman 434-455. Indrawarman 455-515. Candramawarman 515-535 M. Suryawarman 535 – 561 M ia melanjutkan kebijakan politik ayahnya yaitu Candrawarman dengan memberi kepercayaan pada banyak raja daerah untuk mengurus pemerintahannya sendiri. Ia juga mengalihkan perhatiannya pada bagian Timur kerajaan. Kertamawarman 561 – 628. Sudhawarman 628-639. Hariwangsawarman 639-640. Nagajayawarman 640-666. Linggawarman 666-669. Tarusbawa 670 – 723 menantu Linggawarman dan berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa. Sanjaya 723 – 732 menantu dari tarusbawa dan cicit dari Wretikandayun. Tamperan Barmawijaya 732 – 739. Rakeyan Banga 739 – 766. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang 766 – 783. Prabu Gilingwesi 783-795 menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang. Pucukbumi Darmeswara 795-819 menantu Prabu Giling Wesi. Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus 819-891. Prabu Darmaraksa 891 – 895 adik ipar Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus. Windu Sakti Prabu Dewageng 895 – 913. Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucuk Wesi 913-916. Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa 916-942 menantu Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi. Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa 942-954. Limbur Kancana 954-964. Prabu Munding Ganawirya 964-973. Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung 973 – 989. Prabu Braja Wisesa 989-1012. Prabu Dewa Sanghyang 1012-1019. Prabu Sanghyang Ageng 1019 – 1030, berkedudukan di Galuh. Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati 1030‚ – 1042. Darmaraja atau Sang Mokténg Winduraja 1042 – 1065. Langlangbumi atau Sang Mokténg Kerta 1065 – 1155. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur 1155 – 1157. Darmakusuma atau Sang Mokténg Winduraja 1157 – 1175. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu 1175 – 1297. Ragasuci atau Sang Mokténg Taman 1297 – 1303. Citraganda atau Sang Mokténg Tanjung 1303 – 1311. Prabu Linggadéwata 1311-1333. Prabu Ajiguna Linggawisésa 1333-1340. Prabu Ragamulya Luhurprabawa 1340-1350. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa 1350-1357 gugur dalam Perang Bubat. Prabu Bunisora 1357-1371. Prabu Niskala Wastukancana 1371-1475. Prabu Susuk Tunggal 1475-1482. Jayadéwata atau Sri Baduga Maharaja 1482-1521. Prabu Surawisésa 1521-1535. Prabu Déwatabuanawisésa 1535-1543. Prabu Sakti 1543-1551. Prabu Nilakéndra 1551-1567. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana 1567-1579. Masa Kejayaan Lukisan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Sumber Berdasarkan sumber naskah Carita Parahyangan, tidak semua raja yang memimpin itu membawa kejayaan, Quipperian. Setidaknya, tercatat ada 4 raja yang membawa Kerajaan Sunda pada masa keemasan. Keempat raja itu, ialah 1. Sang Lumahing Kreta Raja yang satu ini memimpin selama 92 tahun lamanya. Keberhasilannya dimungkinkan karena Lumahing dianggap senantiasa memegang teguh pada perbuatan utama. Ia sangatlah tegas dalam menjalankan roda pemerintahan sehingga sesuai dengan aturan dan hukum kerajaan yang berlaku. 2. Rakeyan Darmasiksa Rakeyan memerintah kerajaan selama 150 tahun. Keberhasilannya membawa kerajaan pada puncak kejayaan disebabkan karena mengamalkan Sanghyang Siksa dan berpegang teguh pada Sanghiyang Darma. Inilah yang menyebabkan terpenuhinya kebutuhan seperti sandang pangan yang disimbolkan dengan Sang Rama, agama, kesehatan yang disimbolkan Sang Disri, tradisi leluhur yang disimbolkan Sang Resi, dan perdagangan atau pelayaran yang disimbolkan Sang Tarahan. 3. Prabu Niskala Wastu Kancana Memerintah kerajaan selama 104 tahun, Prabu Niskala juga berhasil membawa kerajaan pada masa kejayaan. Ia berhasil memenuhi dan mengendalikan empat aspek kehidupan yaitu sandang pangan, agama dan tradisi leluhur, perdagangan, dan kesehatan. Melalui prasasti Kawali Ciamis juga, ia memperindah Keraton Surawisesa dan membangun parit di sekeliling kota. 4. Sri Baduga Ia berhasil memerintah kerajaan selama 39 tahun yang pusatnya saat itu berada di Pakuan Pajajaran. Ia berhasil membawa kerajaan ke puncak kejayaan karena setia kepada keaslian dan kebiasaan leluhur. Tidak hanya itu, ia juga membebaskan beberapa desa dari tuntutan membayar pajak bagi kepentingan keagamaan. Langkahnya ini mencerminkan perhatiannya pada keagamaan dan tradisi leluhur. Pada masanya, hak itu menjadi perhatian utama dalam menentukan kebijakan pemerintahan. Prasasti Batutulis bahkan mengungkapkan upaya Sri Baduga untuk melaksanakan pembangunan ibu kota, dari jejak-jejaknya yang bisa dilacak hingga saat ini. Sri Baduga membuat hutan-hutan lindung, mengeraskan jalanan dengan batuan, mendirikan gunung-gunungan, membuat telaga yang diberi nama Telaga Rena Mahawijaya, dan membuat parit di sekitar Pajuan Pajajaran. Kehidupan Politik dan Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sunda Menurut Tome Pires, kerajaan Sunda ini memiliki sistem pemerintahan kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja. Takhta kerajaan diberikan secara turun temurun kepada para keturunannya. Namun, jika si raja tidak memiliki keturunan atau anak, maka yang akan menggantikannya adalah salah seorang raja yang dipilih berdasarkan hasil pemilihan. Untuk kehidupan ekonomi kerajaan ini, para pedagangnya sudah bisa melakukan transaksi perdagangan dengan pedagang asing dari kerajaan lainnya seperti Sumatra, Jawa Tengah, Makassar, dan Malaka. Kegiatan perdagangan tersebut didukung dengan adanya pelabuhan-pelabuhan milik Kerajaan Sunda. Komoditas yang diperdagangkan yaitu lada, hewan ternak, sayuran, buah-buahan, dan beras. Selain dari sektor perdagangan, mereka juga mengembangkan sektor perdagangan seperti berladang. Watak masyarakat Sunda yang senang berpindah ini terlihat dari kegiatan berladangnya. Untuk itulah, mengapa ibu kota kerajaan juga sering berpindah-pindah. Susunan masyarakat berdasarkan Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian, kelompok ekonomi mereka terbagi menjadi Pahuma petani ladang Penggembala Pemungut Pajak Mantri Pandai besi Bhayangkara dan prajurit Kelompok cendekiawan dan rohani Maling, begal, dan copet Quiperrian, itulah tadi pembahasan sejarah tentang kerajaan Sunda tentang peninggalan, letak geografis, prasasti, pendiri, raja, masa kejayaan, silsilah kerajaan, sistem pemerintahan, kehidupan politik, kehidupan ekonomi, dan masa keruntuhan. Belajar sejarah itu sebenarnya asyik kok, asalkan penyampaian materinya juga menyenangkan. Nah, kamu bisa belajar bareng Quipper Video, nih. Belajar sejarah bakalan bikin kamu enjoy dan having fun banget deh. Makanya, biar enggak penasaran, buruan subscribe ya! [spoiler title=SUMBER]
kehidupan politik kerajaan sunda